.: Muslimah Pembangun Peradaban

Bukan dari tulang ubun ia dicipta
sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja
Tak juga dari tulang kaki
karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak
Tetapi dari rusuk kiri
Dekat dengan hati untuk dicintai
Dekat dengan tangan untuk dilindungi

(dikutip dari ” Agar Bidadari Cemburu Padamu”, Salim A. Fillah)

==============================================

Bacaan WAJIB bagi yang merasa Muslimah 🙂

writen by: Pembinaan Potensi Muslimah, jarmusnas FSLDK

“Jika anda mendidik seorang pria, maka anda hanya mendidik seorang manusia. Jika anda mendidik seorang wanita, maka anda telah mendidik seluruh manusia. (Presiden Tanzania)

Ada pepatah yang mengatakan, Wanita adalah tiang negara. Kala tiang tiada daya, bangunan pun roboh rata. Tak heran jika ada yang megatakan, “Ibulah yang melahirkan sebuah bangsa!”. Karenanya seorang wanita yang akan menjadi ibu harus memiliki bekal yang banyak, tidak hanya dalam kerumahtanggaan tapi juga seni mengola anak, merawat diri, seni mengelola keuangan, dll. Dari sinilah, menyiapkan diri sejak berada pada bangku kuliah menjadi sebuah keharusan bagi wanita agar kedepannya sudah memiliki bekal untuk menyiapkan generasi baru bagi bangsanya.

Continue reading

Advertisements

:: Perempuan dan Tarbiyah

Syahdan, pada abad pertengahan, tepatnya tahun 1500 M, Eropa menyaksikan kebiadapan dan perilaku yang sangat tidak berperikemanusiaan terhadap perempuan. Sebanyak 9 juta perempuan dibakar hidup-hidup oleh Dewan Khusus, yang sebelumnya mengadakan pertemuan di Roma, Italia, dengan sebuah kesimpulan “Kaum perempuan tidak mempunyai jiwa”.

Di Yunani, lembaga filsafat dan ilmu pengetahuan telah memandang perempuan secara tiranis dan tidak memberinya kedudukan berarti di masyarakat. Mereka menganggap perempuan adalah makluk yang lebih rendah dari laki-laki. Salah seorang tokoh zaman itu, Aristoteles, mengatakan, “Alam tidaklah membekali perempuan dengan persiapan ilmu pengetahuan (intelektual) yang patut dibanggakan“. Karena itu, pendidikan perempuan harus dibatasi dan diarahkan pada masalah yang berkaitan dengan rumah tangga, keibuan, kepengasuhan, dan lain-lain.

Sampai beberapa abad kemudian, perempuan tetap menjadi obyek penderita dan dianggap sebagai makhluk yang sering membawa bencana, seperti ungkapan Socrates, “Perempuan adalah sumber besar dari kekacauan dan perpecahan di dunia.” Bangsa Yunani dan Romawi berkeyakinan bahwa perempuan itu pikirannya lemah dan pendapatnya emosional. Karena itu, mereka meremehkan dan tidak menerima pendapat perempuan.

Continue reading