Tempalah diri ketika (masih) sendiri..

Kebahagiaan itu seperti melihat pelangi…
bukan karena banyaknya materi yang bisa digenggam tangan
melainkan karena perasaan lapang saat melihat warna warni kehidupan

====================================================

Belajar menyemai HIKMAH dari kehidupan orang-orang di sekitarku…

success 4 u

“Sederhana itu Indah”

Begitulah kalimat yang sering di ucapkan oleh salah satu wirausahawan sukses yang aku kenal. Kalimat itu ia katakan bukan karena kondisinya yang pas-pasan. Justru di mataku ia adalah orang yang bergelimang harta. Rumahnya megah, hartanya berlimpah, kendaraannya saja terakhir ku tau ada 5 buah (selain mobil), mau makan apa saja pasti bisa, mulai dari warung lesehan hingga restoran di kotanya bisa saja ia datangi dengan mudah.

Namun ternyata, di balik berlimpahnya rizki yang dikaruniakan Allah padanya, ia adalah seorang yang lebih memilih ketela bakar untuk menjadi sarapannya tiap pagi. Lebih memilih tidur di atas tikar ketimbang di kasur empuknya. Lebih memilih sayur Sop dari pada masakan lezat lainnya.. dan lebih senang menaiki sepeda pancalnya untuk keliling Surabaya.

Continue reading

Advertisements

ketika CINTA mjd Sbuah KaTa KeRJa

love_kite..dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat;
kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan,
atau lemah atau melankolik saat kasih tandas karena takdirNya
sebab di sini kita justru sedang melakukan
sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung:
MENCINTAI.
– M.Anis Matta –

” ya, Rasulullah”, kata ‘Umar perlahan, Aku mencintaimu seperti kucintai diriku sendiri.” Beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam tersenyum.“Tidak wahai ‘Umar Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri dan keluargamu.”
“Ya Rasulullah”, kata’Umar, “Mulai saat ini engkau lebih kucintai daripada apapun di dunia ini.”
“Nah, begitulah wahai ‘Umar.”

Membaca kisah ini dulu saya takjub bertanya. Sebegitu mudahkah bagi orang semacam ‘Umar ibn Al Khaththab menata ulang cintanya dalam sekejab? Sebegitu mudahkah cinta diri digeser ke bawah untuk memberi ruang lebih besar bagi cinta sang Nabi? Dalam waktu yang sangat singkat. Hanya sekejab. Ah, alangkah indahnya jika saya dapat begitu.

Bagaimana bisa!????
Continue reading

MeNCinTai SeJanTaN ‘ALI

Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNYA,
pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberikan apa yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai…

– M. Anis Matta –

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak terkisahkan pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, putri tersayang dari sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ‘Abdullah Sang terpercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!

Maka gadis itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada sang nabi tiba-tiba diam. Fatimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tau apakah perasaan itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fatimah dilamar oleh seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tidak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, radhiyallahu ‘anhu

‘Ali merasa diuji karena terasa apalah ia dibanding dengan Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ‘Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan Rasul-Nya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bark menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ‘Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan da’wah Abu Bakr; ‘Ustman, ‘Abdurrahman Ibn ‘Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakuakn kanak-kanak kurang pergaulan seperti ‘Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ‘Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ‘Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaAllah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ‘Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
“Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ‘Ali. “Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Continue reading

PeLaJaRaN daRi KeLedai.

keledaiSuatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Sementara si petani, sang pemiliknya, memikirkan apa yang harus dilakukannya.Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun karena berbahaya. Jadi tidak berguna menolong si keledai. Ia mengajak tetangganya untuk membantu-nya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Continue reading

Batu Kecil…

Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman yang ada di bawahnya. Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.

Oleh karena itu, untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya.Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang keduapun memperlah hasil yang sama.

Tiba-tiba ia mendapat ide. ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas. Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.

Allah SWT terkadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepadaNYA. Sering kali Allah melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNYA. Karena itu, agar kita selalu inget kepadaNYA, Allah sering menjatuhkan ‘batu kecil’ kepada kita.

Subhanallah, Maha Suci Allah, betapa Cintanya Allah pada kita yang terwujud dengan cara2 indahNYA…

Kisah Yu TIMAH

Kisah yang dituturkan oleh Bpk. Ahmad Tohari yang dimuat dikolom resonansi republika yang setahun telah berlalu itu, nyata-nyata telah membuat kita malu dimata Alloh akan rezekinya yang telah kita terima selama ini.

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah ialah salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.

”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.

”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”

”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”

”Mau ambil berapa?” tanya saya.

”Enam ratus ribu, Pak.”

”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?” Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.

”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”

”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”

”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.

”Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji. Amiin

Pengorbanan Seorang Nasibah

Hari itu Nasibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitargunung Uhud.


Dengan bergegas Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya. “Suamiku tersayang”, Nasibah berkata, “Aku mendengar suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang. Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang…”


Di rumah Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang 2 tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup. “ibu, salam dari Rasulullah”, kata si penunggang kuda. “Suami ibu, Said baru saja gugur di medang perang. beliau Syahid..”


Nasibah tertunduk sebentar, “Inna lillah….” gumamnya, “Suamiku telah menang perang. Terima kasih ya Allah”. “Amar, kau lihat ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan bagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?” Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar. ” Ambillah kuda di kandang dan bawalah tombak. bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi.”


Putra Nasibah yang berbadan kurus itupun segera menderapkan kudanya mengikuti jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, aku Amar Bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur”. Menyusul gugurnya sang ayah, Amar juga wafat. Nasibah menangis, bersedih, siapa yang akan diberangkatkan lagi, Saad masih kanak-kanak”.


Mengetahui itu, Saat tengah berada di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani”. Saad yang sudah meloncat di atas kudanya menggelang yakin.Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nasibah dengan besar hati melambaikan tangannya,  Saad hilang bersama utusan itu.


Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghembaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur menyentuh bumi dan menyerukan, “Allahu Akbar!” Saad menghembuskan nafas terakhir. Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nasibah.


Mendengar berita kematian itu, Nasibah meremang bulu kuduknya. “Hai utusan,” Ujarnya, “Kau saksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya yang masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang”. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nasibah. Setelah itu Rasulullahpun berkata dengan senyum. “Nasibah yang dimuliakan oleh Allah. belum waktunya perempuan menganggkat senjata. Untuk sementara engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur”


Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nasibahpun segera menenteng tas obat-obatan danberangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Dirawatlah mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menengok. Kepala seorang tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.


Timbul kemarahan Nasibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nasibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaikinya kudanya. LAntas bagai singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa yang kafirpun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan membuat putus lengan kirinya. Dan ia pun wafat sebagai seorang syuhada’ yang syahid di jalanNYA….


taken from Oase Desember 2007