Munakahat (lanjutan)

Ada kalimat menarik yang pernah dikatakan oleh RA.Kartini:

“…akan lebih banyak lagi yang dapat saya kerjakan untuk bangsa ini, bila saya ada di samping laki-laki yg cakap, lebih banyak yang bisa saya lakukan daripada yang saya usahakan sebagai perempuan yg berdiri sendiri..”

SINERGIS. Itulah yang pasti diharapkan ada pada organisasi kecil (rumah tangga) yang akan dibangun. Sinergis dalam melaksanakan visi pernikahan, sinergis dalam mendidik anak, dan sinergis dalam memberikan sumbangsih pada ummat.

Lanjutan dari postingan sebelumnya,..

(catatan di bawah ini aku copast dari .ppt nya bu Yoyoh, dari hasil sharing2 dengan para asatidz, para ummahat, dan dari buku2 di kamarku 🙂 ) . Moga Bermanfaat…

Persiapan Diri Menjelang momentum itu  datang,.. Persiapan Moral & Spiritual

Sebelum memutuskan untuk menikah, persiapkan diri dari segi moral amat signifikan. Ingatlah pernyataan Allah  bahwa wanita-wanita yang beriman adalah untuk laki -laki yang beriman dan wanita-wanita yang pezina adalah untuk laki-laki yang pezina. Yang keji hanya akan layak mendapatkan  yang keji.

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina atau permpuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik; dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin” (An Nur : 3).

Bagaimana mungkin ada di antara manusia yang berani memutuskan untuk berzina, sedangkan pasangan bagi orang yang berzina hanyalah pezina pula ? Na’udzubillahi min dzalik. Perhatikan ungkapan ayat berikut :

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji (pula). Dan wanita-wanita yang baik  adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)” (An Nur : 26).

Jika kita ingin mendapat pasangan yang baik, jadikanlah diri baik. Jika seorang laki-laki ingin mendapatkan isteri yang shalihah, ia harus menjadikan dirinya shalih terlebih dahulu, dan sebaliknya. Bagaimana bisa seorang laki-laki menuntut isterinya sekualitas Fatimah, sedangkan ia sendiri tidak sekapasitas Ali ? Bagaimana mungkin berharap memiliki isteri setabah Sarah dan Hajar, sedangkan ia tidak sekokoh Ibrahim as ? Bagi wanita muslimah, jika ingin memiliki suami sehebat Az Zubair, maka harus menyiapkan diri untuk memiliki kapasitas seperti Asma’ binti Abu Bakar. dst

Pun, dari segi  persiapan ruhiyah juga tidak kalah penting, seperti amalan yaumi  yang kudu tetep dijaga baik kualitas maupun kuantitasnya, seperti: sholat fardlu, dhuha, shoum sunnah, tilawah, hafalan, dan yang tak kalah penting Qiyamul Lail, juga shodaqohnya jangan lupa.. 🙂

Persiapan Konsepsional

Kesiapan konsepsional ditandai dengan dikuasainya  berbagai hukum, etika, aturan dan pernik-pernik pernikahan serta kerumahtanggaan. Kadang dijumpai di kalangan masyarakat kita, mereka menikah tanpa mengetahui aturan Islam tentang pernikahan dan kerumahtanggaan. Wajar kalau kemudian dalam hidup berumah tangga terjadi berbagai bentuk kegiatan yang tidak berseusaian dengan sunnah kenabian disebabkan oleh ketidakmengertian. Islam amat menghargai ilmu, karena keimanan seseorang pun dituntut diletakkan di atas landasan keilmuan.

Allah Ta’ala telah berfirman : “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan mohon ampunlah bagi dosamu dan (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan” (Muhammad : 19). Ungkapan ayat di atas diawali dengan kata kerja perintah fa’lam yaitu berupa al amru bil ‘ilmi, perintah untuk mengilmui atau mengetahui, baru kemudian kata kerja perintah wastaghfir yaitu perintah untuk melakukan istighfar. Dalam susunan kalimat seperti ini terkandung sebuah pengertian, bahwa perintah untuk mengetahui lebih didahulukan dibandinglkan dengan perintah untuk beramal.

Persiapan Fisik

Kesiapan fisik ditandai dengan adanya kesehatan yang memadai sehingga kedua belah pihak akan mampu melaksanakan fungsi diri sebagai suami atau isteri dengan optimal. Apabila di antara indikator kemampuan yang dituntut dalam pelaksanaan pernikahan adalah kemampuan melakuikan jimak, maka kesehatan yang dituntut pada laki-laki dan perempuan salah satunya menyangkut kemampuan berhubungan suami isteri secara wajar. Hal lain yang amat penting dalam konteks kesehatan ini adalah pada sisi kesehatan reproduksi. Bahwa laki-laki dan perempuan ini akan mampu melakukan fungsi reproduksi dengan baik. Mereka berdua dipastikan tidak mandul, sehingga nantinya akan memiliki keturunan, sebagai salah satu tujuan dari pernikahan.  Rasulullah saw menganjurkan agar menikahi wanita yang penyayang lagi banyak anak.

Persiapan Materiil

Adapun persiapan material sebelum pernikahan dimaksudkan lebih kepada kesiapan pihak laki-laki untuk menafkahi dan kesiapan perempuan untuk mengelola keuangan keluarga. Bukan berapa tersedianya dana untuk bisa melaksanakan pernikahan. Sebab apabila kita berhitung kelewat matematis, kita tidak akan bisa mencari jumlah minimal kebutuhan uang untuk hidup berkeluarga. Seorang laki-laki harus memiliki kesiapan untuk menafkahi keluarganya, sehingga sebelum menikah ia sudah harus mengetahui pintu-pintu rizqi yang akan mengantarkan dia kepada pemenuhan kewajiban ini. Sebelum menikah ia sudah memiliki pandangan dan rencana untuk melakukan tindakan ekonomi tertentu, baik berusaha wiraswasta, menjadi pegawai swasta ataupun negeri, dan usaha-usaha lkainnya yang halal.

Mengenai berapa penghasilan yang didapatkan dari usaha tersebut, jangan dijadikan tolok ukur utama untuk menilai kesiapan menikah, sebab hal itu akan membuat ketertipuan. Setiap muslim hendaknya dia memiliki optimisme yang tinggi untuk bisa mendapatkan karunia dari Allah berupa rizqi. Selama mereka mau berusaha, melakukan sesuatu untuk kehidupan, jalan-jalan kemudahan itu akan datang.

” Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui ” (QS. An-Nuur:32)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman : “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu itu (sumber) penghidupan” (Al A’raf  : 10). Pernah suatu ketika Rasulullah saw ditanya seseorang, “Ya Rasulullah, pekerjaan apa yang terbaik ?” Maka beliau menjawab, “Pekerjaan yang terbaik adalah usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan semua penjual beli yang baik” (HR. Ahmad, Baihaqi dan lain-lain).

Hal ini bukan berarti seorang wanita dilarang keras untuk mempunyai penghasilan sendiri. Selama suami mengijinkan, selama urusan utama (anak dan rumah tangga) beres, silahkan saja istri bekerja,  itu hal yang mubah. Jika suami bekerja, itu memang wajib baginya karena dia harus menafkahi keluarga. Akan tetapi ketika istri memiliki penghasilan dan harta itu diberikan pada keluarga, maka harta itu bernilai shodaqoh baginya. Bagitulah di  catatanku  buku kajianku tertulis 🙂

Persiapan Sosial

Menikah menyebabkan pelakunya mendapatkan status sosial di tengah masyarakat. Jika sewaktu lajang dia masih menjadi bagian dari keluarga bapak ibunya, sehingga sering belum diperhitungkan dalam kegiatan kemasyarakatan, setelah menikah mereka mulai dihitung sebagai keluarga tersendiri. Membiasakan diri terlibat dalam kegiatan kemasyarakat merupakan cara melakukan persiapan sosial. Apabila laki-laki dan perempuan muslim telah mencapai usia dewasa hendaknya mereka mengambil peran sosial di tengah masyarakat sebagai bagian utuh dari cara mereka belajar berinteraksi dalam kemajemukan masyarakat. Jika sebelum menikah tidak terbiasa melakukan interaksi sosial, biasanya muncul kekagetan ketika telah berumah tangga dengan sejumlah tuntutan sosial yang ada. Islam adalah agama yang senantiasa menyuruh kita memeiliki kepedulian dan keterlibatan soisial.

Allah telah berfirman : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan Nya dengan sesuatu. Dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguihnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (An Nisa : 36).

* Alhamdulillah, akhirnya lunas sudah tanggunganku untuk memposting materinya seminar, jadi untuk para jarmuser SuRYa (Surabaya Raya) ane jangan diteror lagi ya.. 😀 hwehehehe

Sampai jumpa dipostingan selanjutnya, “Muslimah Pembangun Peradaban”, sebegitu besarkah peran muslimah dalam Islam? Well, selamat menanti.. 😀

Advertisements

5 Responses

  1. Although i am not moslem.. This article is a great guidance.. Tengkyu Des.. 😉

  2. jeng…jeng…jeng..jeng….

    Musim kawin telah tiba.

  3. @ nela
    yap. sami2 bu :D. moga bermanfaat buat sampean juga. oche

    @ agung
    kang…kang..kang…
    iyo, musim nikah memang tiba, tinggal nunggu giliran saja He3 😀

  4. jangan engkau tertipu dengan keindahan laut, apa engkau tau banyak ikan yang mati…?!

    mau ngomong apa sebenarnya?? ndak maksud

  5. ndak ada persiapan mental mbak nur???
    mental mau menerima secara ikhlas apa yg telah diberikan-Nya…hehe

    Salam Ukhuwah
    -pedanglaut-

    Yup, bisa ditambahin sendiri 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: